|
|
|
status:
semi-hiatus
mood: netral
reading: new ESQ way 165
listening: so simple
watching: curious george |
| |
| |
| .::taggie::. |
|
|
| |
.::HitCo
|
| |
| |
| .::clickie::. |
|
Rewind
|
| |
|
...::::||::::...
Simple
is nice.
So keep everything simple.
|
|
|
|
Jika kamu percaya semua yang kamu baca, maka lebih baik kamu tidak membaca (pepatah Jepang)
Suatu hari kalimat itu masuk di inbox ponsel saya. Sebuah sms dari seorang teman yang kerap mengirimi kata2 bijak dan tausiyah. Ada yang pernah dengar? Pertama saya membacanya, kening saya langsung berkerut. Ekstrim naif sekali menurut saya saat itu. Pesan itu kalimatnya sederhana tapi bisa jadi timbul salah tafsir. Tergantung seperti apa memaknainya. Saya sendiri akhirnya setuju dengan pepatah itu.
Ada sesuatu yang dilihat dengan konteks di situ (serius amat bahasanya). Menurut saya, pepatah itu lebih kepada mengingatkan bahwa apa yang kita baca, sedikit banyak pastilah mempengaruhi pemikiran bahkan konsep hidup kita.
Saya misalkan sehabis saya membaca suatu buku, pasti masih kerasa efeknya dalam kepala saya untuk selanjutnya terjadi penilaian-penilaian yang berkecamuk antara yang baru saya baca dengan yang selama ini saya pahami. Apakah itu sesuai dengan yang saya sudah pahami, atau sebaliknya, dan untuk seterusnya menambah wawasan positif, atau sebaliknya.
Jadi enggak bisa enggak, setiap tulisan pasti ada pesan tersiratnya, seperti teori udang yang berbunyi: ada udang di balik batu (hidup jayus), ada penggiringan opini atau penyampaian ide dalam setiap bacaan atau tulisan. Untuk itulah ia dipublikasikan dari pikiran seseorang dan dituangkan menjadi bentuk bacaan atau tulisan dan sampai kepada kita.
Makanya, seperti teori memilih teman yang baik atau lingkungan yang sehat, memilih bacaan yang baik plus sehat juga sangat berpengaruh pada diri kita. Engga salah kalo ada jargon toko buku (atau penerbit??) demi melancarkan bisnisnya, yang kira-kira bunyinya begini: Masa depan anda tergantung dari apa yang anda baca Dan.... Dirimu adalah apa yang kamu baca (terjemahan bebas dari U are what U read :)
Jadi intinya ya tadi, hati-hati dengan apa yang kita baca. Apalagi kalau kita model orang yang gampang terpengaruh, kebayang kan gawatnya. Selesai baca buku tentang pentingnya mandi, jadi semangat skali mandi, eh setelah baca buku tentang pentingnya menghemat air, langsung frekuensi mandi jadi sejarang-jarangnya kecuali kalau orang di sekitar sudah ngancam bakalan demo mogok temenan (ini contoh yang salah ya anak-anak, jangan diseriusin :)
Dramatisirnya, kalo memang pengaruh bacaan bisa sehebat itu, bayangin aja diterpa terus dengan beragam bacaan dengan ideologi serupa, walau masih sadar pun tetap bakalan susah ngelaknya. Coba kalo dimanfaatkan secara positif dengan perbanyak baca buku-buku yang sehat plus bergizi, jadi tetap positif juga untuk perkembangan kita. Iya enggak?
Btw, daritadi ngomong bacaan yang sehat, emang ada bacaan yang enggak sehat ya? Yah....wajarlah, ada yang baik ada yang buruk, dan hidup adalah masalah pilihan, tapi manusia diberi kelebihan dan kecendrungan untuk dapat memilih yang terbaik baginya (kayak judul lagu), mempertimbangkan yang mana yang baik dan yang buruk, ya relevankan aja dengan parameter rasio dan nilai-nilai yang kita anut. Zaman sekarang yang baik ama yang buruk emang kadang susah dibedain. Tapi seperti teori sepah (atau prinsip maling selop di masjid??), ambil yang baiknya, tinggalkan yang buruk. Untuk urusan membaca pun begitu, membacalah secara kritis, jangan sampai ketelan mentah-mentah semuanya.
Jadi bukan maksud hati enggak membolehin membaca buku yang aneh-aneh. Siapa bilang begitu. Bahkan kalo biasanya kita hanya membaca buku yang menarik perhatian atau hanya buku yang relevan dengan studi kita, bagus malah kalau kita mau membaca sesuatu di luar dunia kebiasaan atau ketertarikan kita.
Kita dapat penambahan wawasan dan sadar kalau banyak skali yang belum kita tahu di dunia ini, kayak kata orang bijak (lupa siapa, yang pasti bukan tetangga saya), semakin bertambah pengetahuanku semakin merasa bodohlah aku, karena ilmu itu enggak ada habis-habisnya, makin digali makin takjub, makin takjub makin menantang untuk digali lagi. Bayangin aja kalo ilmu punya ambang batas sehingga enggak ada yang perlu lagi dieksplorasi, alhasil para peneliti bakalan pensiun. Enggak mungkinlah kan?
Jadi kalo misalnya anak biologi, enggak mesti melulu baca buku biologi, amoeba, flora fauna, dllsb, tapi sekali-kali bisa aja, misalnya niat pergi ke toko buku mesti beli buku yang dipajang di rak pojok kanan paling atas. Buku apapun itu, menarik atau tidak, enggak ada salahnya dibaca, yang jelas pasti ada sesuatu yang baru yang bakalan kita dapatkan. Kalau isinya enggak bagus, barangkali bisa belajar cara nulisnya (kan dia udah sukses nerbitin buku), kalau memang isinya ancur menurut kita, ya berarti kita jadi tahu buku yang engga mungkin laku itu seperti apa, atau setidaknya covernya ngasih inspirasi, atau ketebalan bukunya bisa bantu menuhin koleksi buku di lemari. Heihei, itu contoh yang engga realistis mungkin, tapi itu saya dapat dari sebuah buku cara mencari ide baru atau inspirasi, yaitu salah satunya dengan mengacak jenis bacaan kita.
Kembali ke pepatah negrinya om doraemon di atas, jadi pesan itu sama sekali bukannya ngelarang kita percaya dengan semua yang kita baca, bukan pula kita disuruh enggak usah membaca (kalo gini, saya engga ikut-ikutan ya). Tapi just be careful with ur reading, hati-hati dengan bacaan anda. Hati-hati dalam memahami apa yang kita baca, bukan tidak banyak bacaan yang bisa mengaduk pemikiran kita dengan permainan kata yang seolah masuk akal. Kadangkala kita harus bijak dan kritis dan mungkin membaca lebih banyak jenis buku untuk dapat mengambil kesimpulan yang tepat.
Teori "seeing is believing" tidak selalu dapat dibenarkan. Karena engga semua bisa kita 'lihat' dulu baru percaya (manusia punya keterbatasan, kan?). Ada banyak hal yang sama logisnya dan nyata walaupun kita tidak mampu melihatnya dengan mata kepala kita sendiri, kita enggak bisa memungkiri ada hal-hal di luar kuasa dan kendali kita. Saat itulah sebuah keyakinan menjadi sandaran. Lupakanlah yang tampak, masuklah ke dalam yang tak tampak. Di sana kalian akan menemukan perbendaharaan yang tiada tara!~ (rumi)
Nah buat yang sering mengisi biodata, khususnya kalo ditanyain hobi, dan biasanya diisi dengan satu atau salah satunya: mem-ba-ca (kayaknya ini pilihan yang paling populer dan mungkin karena kelihatannya sederhana enggak terlalu muluk-muluk), membaca itu sudah keharusan loh, bukan sekedar hobi. Soalnya dalam Al Quran sendiri (kalo yang satu ini jenis bacaan yang tidak ada keraguan di dalamnya, langsung dari Masternya sih, Allah Swt), perintah Iqra' atau bacalah malah merupakan ayat yang pertama kali turun. Iqra' yang dimaksud, bukan hanya baca buku, tapi juga membaca tanda alam dan membaca segala yang ada di sekitar, karena orang yang berpikir tentang semua itu akan mendorong untuk mencari ilmu dan ilmu yang tiada batas! Otomatis tentu akan menambah rasa cintanya dalam bentuk ketaatan pada Allah. (omg, Islam is so byutipul lae!) Sudah pada tau dong, Islam sebenarnya sangat mementingkan ilmu. Orang yang beramal dengan tahu ilmunya lebih baik daripada orang yang amalnya buanyak skali tapi sekedar ikut-ikutan.
Ilmu Allah itu lebih maha luas dari yang dapat kita bayangkan. Ilmu itu semakin berusaha didekati semakin mengagumkan. Selangkah kurapat padamu, seribu langkah Kau rapat padaku (Tuu, Allah mahabaik kan? Engga sombong. Saya suka sekali kata-kata ini, karena terlalu banyak keajaiban yang ditunjukkanNya, saya harap ia engga mencabut rasa kagum ini)
Ok sekian dan demikian, selamat menjalankan aktifitas membaca yang penuh penghayatan dan kearifan (halah!).
Kesimpulannya, kayak plesetan sebuah iklan (hayo apaa)... enggak semua yang lo baca itu bener.... (termasuk tulisan saya ini.. :)
Posted
by me
Monday, April 17, 2006
|
|
|
0 Comments:
Post a Comment
<< home