|
|
|
status:
semi-hiatus
mood: netral
reading: new ESQ way 165
listening: so simple
watching: curious george |
| |
| |
| .::taggie::. |
|
|
| |
.::HitCo
|
| |
| |
| .::clickie::. |
|
Rewind
|
| |
|
...::::||::::...
Simple
is nice.
So keep everything simple.
|
|
|
|
Bismillahirrahmanirrahim... Bagaimana perasaan anda saat penyerahan senjata dan saat melepaskan atribut GAM? Ya, kami memang harus melakukannya, berdasarkan konsekuensi kesepakatan. Ada juga sih rasa sedih karena kami sudah bertahun-tahun menggunakannya dan sekarang harus menanggalkannya. Kami sekarang akan hidup berbaur kembali seperti masyarakat biasa.
Semoga kita nanti bias melihat bagaimana kedua pihak mampu memegang amanah untuk menjalankan kesepakatan.
Mempertanyakan itikad baik, bukan hanya haknya pihak NKRI yang sekiranya terlontar prasangka2 itu. Jadi kalau semisal tetap ada yang melontar prasangka bahwa misalnya senjata yang diserahkan mengapa lebih sedikit dari TNA yang ada atau mengapa banyak yang berupa rakitan, atau bahkan kekecewaan yang terus terlontar mengapa pemerintah mesti menandatangani perjanjian seperti itu, dllsb, memang kalau untuk sebuah kewaspadaan itu wajar saja ditanyakan, Kalau saja memang 840 pucuk senjata itu berarti mereka tidak menyerahkan seluruh persenjataan yang ada, mereka juga berhak waspada.namun bukankah kita sudah ingin memulai hidup yang penuh keadilan dan saling tenggang rasa seperti yang dikatakan ciri khasnya orang Indonesia. Jadi kita perlu bangun kembali sebuah Pola Berpikir Positif. Karena membngun kepercayaan itu sepenting yang Rasulullah pernah contohkan. Dengan curiga tidak ada hubungan baik yang akn langgeng, tapi saling membangun kepercayaan itu adalah kebijaksanaan yang menawan.
Dari sisi satunya lagi. Bukankah GAM juga berhak mencurigai apakah konsekuensi ini akan berjalan mulus. Karena sebenarnya kalau dilihat-lihat, sejak bertahun2 yang lalu, yang selalu dikhianati adalah dari pihak Rakyat Aceh, oleh RI. Jadi sungguh ironis apabila kita tidak melihat dari sudut pandang GAM, alasan mengapa terjadi seperti ini, akar masalah mengapa mereka samapai berani dicap tidak populer sebagai pemberontak. Semua ada awalnya.
Sejak dulu yang sekiranya terjadi di Aceh, adalah ketidakadilan terus menerus menggerogoti. Padahal negeri Aceh kaya tapi penduduknya justru banyak yang hidup tidak selayaknya. Terserah dikatakan bahwa itu masalah mental dan kebiasaan yang tidak suka bekerjakeras. Tidak. Tidak sepenuhnya benar. Karena ketimpangan yang terjadi terlalu nyata. Katakanlah akibat dari sentralisasi, bagaimana mungkin dapat terus diterima, ketika akhirnya rakyat Aceh yang sadar bahwa selama ini bahkan mungkin tidak sampai 5 % pembagian yang mereka terima. Selebihnya kemana? Jadi wajarlah bila angka 70 % menjadi sebuah janji. Yang harus ditepati. Toh kekayaan yang sudah bertahun-tahun dikeruk dengan semenamena, saat ini bahkan mungkin angka perjanjian itu tidak dapat mngembalikan semua yang seharusnya menjadi milik Rakyat Aceh. Bahkan dapat dikataknlah sekarang ini apakah tidak layak bagi Rakyat Aceh menikmatinya walau sekedar sisa, kita tahu bahwa semua kekayaan sudah hampir menipis.
Masalah pemberian tanah, juga itu bukan hal yang terlalu salah. Itu juga tanah milik daerah Aceh, bukannya tanah pemerintah pusat yang dibawa ke Aceh.
Sudah begitu, kekejian yang berlangsung cukup lama, sehingga menimbulkan luka pedih. Sebenarnya berawal dari siapa. jangan salahkan dan jangan herankan anak-anak saja memiliki trauma yang bahkan mungkin dapat membuatnya memiliki kebencian yang amat sangat. Bayangin aja, kehilangan orang tua sendiri mungkin akan membuat kta merasa sedih, apalagi jika harus kehilangan semua keluarga, semua orang yng dikasihi, dan perihnya lagi bila harus kehilangan dengan cara2 keji dan semua terjadi di depan mata. Bayangkan bagaimana bila semua akan melekat kuat dalam sepanjanaag ingatan, tangisan dan ketakutan.
Tak heran bila mungkin anak-anak yang menjadi korban bila besarnya akan menjawab, "Mau jai GAM!" Jangan salahkan mereka. Bayangkan bila itu adalah kita. Luka itu begitu menusuk. Hanya saja tidak ada kata terlambat buat saling berangkulan, karena Tuhan saja memiliki pintu maaf seluas langit dan bummi. Sebuah itikad baik yang berasal dari kejernihan hati, dan bersungguh-sungguh untuk memperbaiki kesalahan adalah suatu kemuliaan. InshaAllah musibah tsunami pun memiliki hikmah yang sangat besar. Suatu momen yang menghentakkan. Ketika kita sadar bahwa Allah tahu bahwa rakyat Aceh cukup kuat dan mampu mengambil hikmahnya. Bukankah Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan? Damai Aceh.
aceh beu aman beu aman bek le troh darah seuramo mekah h beukhong agama
Posted
by me
Thursday, September 15, 2005
|
|
|
0 Comments:
Post a Comment
<< home