|
|
|
status:
semi-hiatus
mood: netral
reading: new ESQ way 165
listening: so simple
watching: curious george |
| |
| |
| .::taggie::. |
|
|
| |
.::HitCo
|
| |
| |
| .::clickie::. |
|
Rewind
|
| |
|
...::::||::::...
Simple
is nice.
So keep everything simple.
|
|
|
|
Saya malu. Malu pada diri sendiri. Setiap saya bertanya apa kabar saya sekarang. Jawabannya yang selalu sama akhir-akhir ini... stagnan. Saya merasa amat sangat mentok karena tidak menghasilkan suatu karya pun. Hanya melakukan rutinitas dan hal-hal yang beralasan 'sekedar ngisi waktu luang'...
Bahkan di depan komputer pun saya seakan enggak tahu niat awal saya menghidupkannya untuk apa. Tidak tugas, kerjaan, dllsb. Ya Allah... mungkin inikah yang dinamakan: Mati kreativitas. *sigh* Bahkan yang kedua, saya jadi rajin melototi template2 di designidea gara2... ya itu tadi. Wih~~
Kemarin saya mencoba membuat komik. Saya begitu bersemangat awalnya begitu mengetahui ada sesuatu yang bisa saya lakukan, bisa berkarya. Tetapi ternyata benar-benar anget2 *** ayam, waktu itu saya hampir menyelesaikan setengah jalan dengan lancarnya. Namun setelahnya bisa ditebak. Udah diusahain, dikuat2in, di postivthinkingin, dan ampe dipandangi plus disenyumin aja tu sketsa gambar yang sebelumnya udah discan ke komputer, sama skali enggak ada yang terjadi.
Ya Allah... saya ga bisa lagi meneruskannya. Apalagi ditambah komput saya tiba2 terserang penyakit bisa merajuk alias HANG. Biasanya ga pernah dia sesensitip itu, tapi tiba2 dia bisa berbuat begitu sama saya. Apa coba.
Barangkali stabilizernya udah mulai rusak gara2 sering mati lampu atau mati tak sesuai prosedur sehingga jendela scan selalu mengawali nafasnya saat dihidupkan. Hingga deadlyne komik itu pun berakhir dan saya cuma bisa pasrah. Tidak ada yang bisa dipaksakan. Komput yang barangkali mesti dire-install lagi, dan diri saya yang mesti di re-charge spiritnya.
Saya terus berusaha membersihkan hati saya sebelum saya melakukan sesuatu, dan hingga saat ini pun saya tetap prasangka baik sama Allah. Tidak ada yang akan terjadi sebelum waktunya. Ya. Apapun itu, barangkali saya belum menyempurnakan ikhtiar alias belum bersungguh-sungguh. :( Ya Allah... apa yang terjadi nih... yang pasti ada masalah dengan diri, atau mungkin saya sedang butuh smacam terapi level 3.. :P
Sampai2 pas kemarin ke Rumah Zakat pun, mo ngambil flashdisk, saya kaget setengah hidup. Ketika diteriakin, Lhoo?? ini kan Bu Aii? Katanya sakit??!! Wah, isu dari mana nih, baru aja saya pikir apa saya mesti memeriksakan diri ke dokter, tiba2 di RZI pada beredar isu dan mereka hampir mau menjenguk saya. Akhirnya setelah saya tahu bahwa teman saya salah mengartikan sms dari saya yang meminta permisi tidak ikut diksar Ahad kemarin, saya pun cuma tersenyum lucu. Dispensasi buat saya.
.....
Siang ini saya tidak kemana-mana. Di kamar dan memutuskan membaca beberapa buku yang baru saya beli kemarin dan juga bebrapa buku yang baru saya pinjam dari perpus. Semuanya dibaca sekilas-kilas dan setelah satu bab saya berganti buku lain. Ketika pintu berderik perlahan. Siapa? Ah rupanya Una anak tetangga. 'Masuk, Na." sahut saya. Dia pun mengucap salam dan masuk. Rupanya di rumahnya sedang tidak ada orang dan ia baru pulang dari sekolahnya. SD baru masuk kelas 1. Sembari saya ngobrol sekedar menanyakan gimana sekolahnya dan berbagai hal sebagaianya, saya tidak lepas dari membaca buku-buku saya. Sampai Una menanyakan, kakak kenapa? Ah, rupanya dia juga tahu dari nada saya bicara, saya lagi tidak bersemangat. Saya cuma senyum dan dengan alasan, enggak kok Na, cuma agak ngantuk.
Sembari itu saya memperhatikan Una mondar mandir di kamar saya. Ada saja yang dilakukannya. Ia menemukan crayon saya di lemari, dia berseru girang. Dia menemukan semacam jaring bekas pembungkus buah dalam plastik pir saya, ia tersenyum sendiri, ia menemukan toyblock yang saya dapat dari hadiah produk susu, ia pun memintanya. Ia memainkan sapu, mematut2 wajahnya di cermin, mencoret2 kertas untuk menulis, membanggakan bahwa dia pun sudah bisa menulis nama saya dengan lengkap, menyusun2 toyblock dengan lem lalu membungkusnya. Ah ada2 saja. Una.. una..
Saya jadi mikir. Namanya anak2, setiap benda yang dilihatnya memiliki potensi berarti untuk menjadi sesuatu. Kadang2 semua terlihat menarik perhatian dan imajinasi pun menjadikannya hal-hal yang mampu membuat mereka asik sendiri dengan temuannya.
Kata2 yang saya suka tentang anak2 adalah: Kebebasan dan kesederhanaan.
Senangnya bila saya bisa melakukan sesuatu yang saya sukai dan saya tidak takut memikirkan apa yang belum tentu terjadi ke depannya dan tidak pula melihat kegagalan kemarin hari yang membuat saya putus asa. Memandang segala sesuatu sebagai sebuah kesempatan yang menarik untuk berkreativitas dan memadukannya dengan imajinasi yang baik dan berguna. Seperti melihat anak tetangga saya itu yang selalu bersemangat menemukan sesuatu dan melakukan sesuatu tanpa mesti mengerutkan keningnya dan bertanya terlalu banyak apakah dirinya bisa melakukannya dengan baik. Aha.. mungkin gara2 itulah saya selalu mandeg. Karena saya terus memikirkan penilaian2 terhadap karya saya, terlalu ini, terlalu itu, kurang cocok, atau bagaimana, yang akhirnya semua menjadikan saya selalu berpikir lebih dari dua kali untuk menyelesaikannya atau bahkan menjadikannya ada. Padahal kepercayaan diri saya bisa luntur karena pikiran saya sendiri dan hal2 yang saya cemaskan belum tentu terjadi...
nb: Kak, enggak jadi ni komiknya, siapa yang harus bertanggungjawab telah mengajakku jalan2 di saat smangat itu begitu membara.. ^^
Posted
by me
Thursday, September 08, 2005
|
|
|
0 Comments:
Post a Comment
<< home