|
|
|
status:
semi-hiatus
mood: netral
reading: new ESQ way 165
listening: so simple
watching: curious george |
| |
| |
| .::taggie::. |
|
|
| |
.::HitCo
|
| |
| |
| .::clickie::. |
|
Rewind
|
| |
|
...::::||::::...
Simple
is nice.
So keep everything simple.
|
|
|
|
PAGIII... Hari pertama ujian. Pagi-pagi mesti berangkat hanya sempat sarapan susu dan biskuit beberapa potong. Mana semalaman enggak tidur lagi, bukan, bukan karena begadang untuk belajar, inshaAllah seumur-umur sekolahan, enggak pernah bela-belain begadang demi yang namanya ngapal buat ujian. Atau istilahnya SKS alias sistem kebut semalam. Yang penting fresh stamina untuk ujian.
DA REASON... So alasannya adalah karena ngerjain tugas yang belum selesai itu. Dan akhirnya pengaruh deadlyne juga yang menang, jadinya karena besok mesti dikumpul, 23 lembar ditambah main-main angka, selesai diketik semalaman. Jadi ngapain aja sebelumnya? Jujur, setelah selesai hunting dan mengumpulkan bahan selama beberapa hari dan baru mengetik 3 lembar (itu pun salah satunya cover :p) selalu muncul pertimbangan-pertimbangan, ini maksudnya apa, seharusnya ini begini, bahannya ada yang kurang di sini, atau apalah yang membikin mentok dan penundaan pun terjadi. Vakum, istirahatlah. Alasannya ga konkrit ya (belum ada inspirasi). >> Gpp, jadi inget kata dosen fotografi kami: "Kalau enggak bisa jangan dipaksa." :p (waktu lagi midtest, masang lensa kamera ga berhasil2, tapi mesti jaim alias jaga iman supaya engga kelewat semangat soalnya kamera mahal kalau rusak...wah)
Hingga hari Jumat tiba, dan mesti nginap ke tempat saudara karena ada keperluan. Baru balik Sabtu sore. Malamnya capek benar, tidur. Minggu pagi, as usual, rutinitas format ulang dan beresin kamar terjadi. Sekaligus supaya menciptakan suasana dan sikon yang fresh menjelang ujian (apa coba). Malamnya udah coba duduk di depan kompie, dengan tumpukan buku2, kertas2, snack2, di sebelah meja. Bismillah, hari ini harus dikerjain. Tiba-tiba. Blep. Listrik padam (again). Innalillahi... *sigH*
Dan begitulah. Besoknya bagaimana pun siap gak siap mesti siap. Malam terakhir itu baru kelar sekitar pukul 4 pagi. Alhamdulillah ba’da Subuh bisa terlelap walau bentar. Mayanlah ada sedikit stamina (tidur berkualitas itu obat yang baik ya). Masih jam tujuh sekian dan enggak mau melangkah dengan terburu-buru. Perasaan bahagia bgt tugas kelar tepat waktu walaupun maksa. Dan tiba2 baru teringat sesuatu yang penting, syarat ujian, KTM, KRS dan bukti SPP. Syukurlah masih di rumah, dan proses pencarian file2 itu ternyata memakan waktu cukup bikin panik, memeriksa isi binder buku dan membolakbalik halaman arsip file yang mayan tebal satu persatu, soalnya ketiga benda itu memiliki tempat sendiri2. Akhirnya jam tengah lapan baru berangkat. Satu hal lagi baru teringat, kalau jalan yang biasa dilewati sudah tidak bisa diakses lagi, jadi terpaksa mutar lewat jalan yang... mayan jauh. Mudah2an gak telat.
BLOKIR Padahal dari kos saya cuma terhalang satu dua rumah tetangga untuk mencapai pasar (di sini jalan besar disebut pasar, dan pasar disebut pajak), tapi karena salah satu sang tetangga tidak ingin membiarkan sejengkal tanah miliknya tidak dibatasi pagar, akibatnya selesai ia memugar rumahnya jadi beton semua, ia membeton juga halamannya dengan tembok yang tidak tanggung-tanggung tingginya. Duh, tega nian, padahal sudah sejak lama itu menjadi jalan umum yang dilalulalangi banyak orang, tapi tiba-tiba tanpa aling2 jalan itu diblokir. Gang kami jadi gang buntu, dan kayaknya bakalan banyak orang yang kecele untuk beberapa waktu ini.
Sebenarnya tetangga yang lain sebelumnya udah nyoba membicarakan baik-baik, termasuk ibu kos kami, tapi pagar tembok itu sukses berdiri tegar sejak hari Minggu kemarin. Beberapa tukang yang saat itu sedang mengerjakan pembuatan the great wall itu, juga tampak sungkan mengerjakannya, soalnya beberapa di antara mereka juga penduduk sekitar.
COZ WE ARE... Enggak ngerti deh, kenapa mesti membangun tembok itu. Memang haknya sih. Tapi... Yah, sampai kapan bisa bertahan hidup mengasing seperti itu, walau mereka juga tampaknya pendatang beda etnis dan kurang membaur dengan masyarakat sekitar, tapi suatu saat bagaimanapun jika kita perlu pertolongan, bukankah tetangga merupakan orang yang paling dekat dengan kita, yang dapat membantu kita lebih dulu dibandingkan orang lain yang tinggalnya jauh, walau saudara sekalipun. Sungguh mulia Islam yang mengajarkan kita menjaga hubungan baik dengan tetangga, menghormati, saling membantu, bahkan tidak membiarkan kalau ada orang yang tetangganya kelaparan sedangkan ia makan dengan kenyangnya. Okay. Akhirnya sampai kampus. Turun lewat pintu belakang atau biasanya disebut 'balik tembok' karena dilihat2 dari kejauhan orang bisa ngilang begitu lewat tembok ajaib itu. Enggak sih, karena di situ ada pintu yang cuma muat 1 orang aja dan tidak kelihatan dari arah dalam kampusnya karena dilapisi tembok yang melebar. Susah jelasinnya, liat aja sendiri kalau bisa. Lantaran niat naik becak, jadi dari situ lebih dekat ke kampus, kalau untuk berjalan kaki jalanan di situ mayan sepi dan gersang.
TUKANG BECAK Kayaknya tukang-tukang becak di pangkalan situ, langsung ga semangat kalau liat siapa yang muncul dari balik tembok. Mereka jadi hapal kalau saya anak yang jarak kampus nya enggak jauh2 amat dari situ, jadi ongkosnya pun cuma bayar seribu. Ngerti, ngerti, maapkan saya, pasalnya mereka itu pakai sistem antri biar semua becak kebagian penumpang. Jadi betapa sedihnya hati tukang becak yang pas giliran, malah saya yang jadi penumpangnya. Ha. *apa coba*
Sampai di kelas ternyata belum banyak yang datang. Saya baru ngeh setelah menilik lagi jadwal ujian saya. Semester ini jadwal ujian dilebihkan hingga 3o menit. Jadi masuknya jam lapan tiga puluh. Syukurlah belum terlambat. Dan begitu pengawas datang ujian pun berjalan dengan tenang...
SOAL UJIAN Mengenai soal-soal ujian di sini. Selama pengamatan saya, itu sekitar tiga atau paling banyak enam (belum itung sub2nya) soal dengan kalimat yang enggak panjang2 dan dengan metode essay. Ringkes bgt ya buat soal. Standar kebanyakan begitu. Bukannya saya mau minta lebih, enggak juga, cuma kok kesannya gimana ya, enggak kreatip mungkin.
Soalnya waktu saya masih SMU dulu, saya sering bantuin ibu (alm) meriksain soal2 ujian anak2 didiknya. Dan soal-soal yang dibuat ibu selalu berlembar-lembar, model soalnya pun macam2, dari pilihan berganda, isi blank fill, jawaban singkat, ada essay juga, dsb. Kadang sebelum bantu meriksain saya coba2 isi dulu yang kosong, (bahasa Inggris, itung2 latihan hadapin UMPTN waktu itu) baru setelahnya dicocokin dengan lembar jawaban (kalau yang essay tentu ibu yang meriksa sendiri, karena kan kalau essay jawabannya enggak mutlak). Saya suka karena model soalnya menarik dan ketikannya walaupun banyak tapi sama sekali enggak bikin mumang (pusing) mbacanya. Saya pikir soal anak kuliahan itu gini ya. Tapi ternyata enggak semua universitas sama. Hm. But maibi dengan soal2 ujian saya sekarang, ada kelebihannya juga, saya jadi lebih pintar mengarang... itung2 asah kemampuan menulis. Begitu?
Bukan enggak ada pekerjaan yang sia-sia, tapi selama kita bisa mengisinya dengan benar.
Posted
by me
Tuesday, May 17, 2005
|
|
|
0 Comments:
Post a Comment
<< home