|
|
|
status:
semi-hiatus
mood: netral
reading: new ESQ way 165
listening: so simple
watching: curious george |
| |
| |
| .::taggie::. |
|
|
| |
.::HitCo
|
| |
| |
| .::clickie::. |
|
Rewind
|
| |
|
...::::||::::...
Simple
is nice.
So keep everything simple.
|
|
|
|
Logo ada karena kita bisa melihatnya.
Setiap perusahaan atau produk terkenal memiliki logo sebagai lambang keeksisannya. Logo merupakan salah satu teknik branding dalam dunia pemasaran. Logo itu sendiri merupakan lambang baik berupa simbol, gambar atau tipografi yang dengan itulah kekhasan suatu nama yang diusungnya 'melekat' atau 'diharapkan melekat' dalam artian terkenal di pasaran.
Saya pernah mengikuti sebuah mata kuliah desain grafis di kampus saya. Saat itu adalah saat pengumpulan tugas tentang logo. Seorang mahasiswa mengatakan bahwa dia tidak berani untuk menginterpretasikan makna atau filosofis yang terkandung dalam sebuah logo/brand image. Karena itu prerogatifnya internal perusahaan atau organisasi. Mungkin pernyataan yang mendapat applause dari rekan-rekan mahasiswa yang lain setelah mendengarkannya beretorika semacam itu, merupakan sebuah tohokan bagi saya. Adapun saya dalam penugasan itu menyertakan interpretasi saya pribadi dalam memaknai kandungan filosofi dalam sebuah logo, selain dari tugas dasarnya yakni memilah-milah elemen dasar yang terdapat pada logo-logo perusahaan terkenal.
Saya terdiam. Apakah benar begitu? Saat itu saya belum menemukan alasan yang tepat untuk memungkirinya. Karena dosen pengasuh mata kuliah itu pun juga mendiskreditkan saya karena ulah saya yang mencoba 'ngarang ngarang'. Namun saya meyakinkan diri saya bahwa saya tidak salah. Saya tidak asal tulis, saya juga melihat kinerja atau lingkup kerja perusahaannya.
Setelah saya mencoba menyimpulkan sendiri sebuah pembenaran, seperti yang akan saya kemukakan setelah ini, saya membesarkan hati saya bahwa pernyataan teman saya itu hanyalah 'excuse'nya karena analisis yang dibuatnya terlihat tidak begitu mendalam :))
Baiklah saya akan memulai maksud hati saya. Kita akan membicarakan sedikit tentang logo. Logo juga merupakan tekhnik sebuah perusahaan untuk memperkenalkan produknya agar mudah diingat. Citra visual yang menurut fungsi emosionalnya lebih efektif untuk asosiasi sosialisasi dan pengenalan merk atau produk, on the top of one's mind. Dan menurut saya, penampilan logo itu layaknya lambang komunikasi yang esensinya mencapai kesamaan makna antara pihak komunikator dan komunikan atau khalayak. Dari logo mungkin orang bahkan dapat mengungkapkan rasa tertariknya sekalipun produk apa yang ditawarkan belum diketahuinya. Bisa jadi.
Logo tentu menggunakan pencitraan visual yang maknanya kurang lebih tidak berbeda dari makna yang beredar pada umumnya. Setiap orang tahu bahwa air itu aslinya tidak berwarna. Tapi semua orang menganggap air yang jernih itu berwarna biru, seperti warna air laut yang sebenarnya merupakan pantulan cahaya, bahkan anak-anak yang katakanlah memiliki pandangan yang 'apa adanya' pun tahu kalau mewarnai air itu biru atau sebaiknya biru. Lihat saja dalam lukisan coret-coretan kita di masa kecil, gunung, matahari, rerumahan, dan air lautnya yang tentu saja diwarnai biru.
Maka dari itu dapat kita lihat warna biru yang mendominasi pada sebagian besar produk kemasan air mineral dapat diidentikkan sebagai warna air yang jernih. Atau lihat saja garis lengkung birama huruf Q pada Aqua yang mengisyaratkan kita pada air yang benar-benar mengalir (mengalir biasanya jernih kan?)
Itu satu contoh penggunaan warna. Ada lagi misalnya penggunaan tekhnik visual lain atau pengunaan aplikasi dari elemen dasar grafis lainnya. Kita bisa melihat logo pampers atau toyblock milik anak-anak didesain sedemikian rupa sehingga mencerminkan 'kiddies bener gitu loh'.
Paduan warna-warni terang, bentuk agak berantakan atau freeform, tipografi yang mungkin tidak formal, yang kesemuanya itu ingin menekankan pada kebebasan, keceriaan, dan kesan 'tidak serius', itulah dunianya anak-anak, dan anak-anak akan tertarik pada hal-hal seperti itu. Yang tentu saja akan berbeda sekali dengan logo-logo bisnis, seperti asuransi atau bank, yang bahkan mungkin berupaya memaksimalkan penampilan kesan serius, elegan, profesional, dan kesan untuk dapat dipercaya.
Nah, dari itulah saya mulai mempertanyakan lagi, mengapa ada kata ketidakbolehan atau ketidakberanian dalam mengomentari makna suatu logo. Memang awal mula pendesainan logo itu berawal dari pemilihan makna, yang benar-benar dipilih dan dianggap dapat menginterpretasikan hal-hal tentang produk/perusahaan itu sendiri, atau hal-hal yang melatarbelakangi produk atau perusahaannya.
Mengapa logo sebuah produk kopi digambarkan sebuah kapal api pada produk kopi kapal api? Kita dapat melihat tulisan di bawah logo itu sendiri yakni 'sejak 1976' (?). Nah kapal api sendiri merupakan kapal jenis lama dan bahkan dapat dikatakan tidak ada lagi keluarannya untuk kapal-kapal modern sekarang ini. Pihak produksinya mencoba mengungkit-ngungkit 'kedewasaan' mereka bahwa mereka telah berpengalaman sejak tempoe doeloe dan layak dipercaya kualitasnya. Kurang lebih demikian.
Hal-hal yang melatarbelakangi seperti itu, tidak diyakini semua orang mengerti. Apakah benar ini merupakan produk lama yang masih bertahan atau itu hanya sebuah 'rekayasa logo'. Kita dapat saja menginterpretasikan bahwa yang namanya kapal api itu berat dan hitam. Bukankah bubuk kopi yang kental dan warnanya hitam sehitam-hitamnya itu menjanjikan rasa yang nikmat? Asosiasi spontan kita dapat saja bermain seperti itu.
Kecendrungan menterjemahkan atau menginterpretasikan apa yang tervisual secara spontan, sama halnya seperti orang yang berkomunikasi lisan. Antar budaya katakanlah. Mungkin dalam suatu negara, kata ini lain artinya dengan kata yang sama menurut bahasa lainnya. Saya kira tidak perlu disebutkan contoh karena hal ini sudah lumrah.
Hal seperti itu pula yang dimaksud dengan menerjemahkan logo. Bila kita ada di posisi perusahaannya atau logo-makernya, kita tentu tidak akan membuat logo yang dapat menimbulkan kesalahpahaman, atau kecendrungan prasangka, yang dapat bermakna negatif bila kita ingin membranding produk kita secara positif. Kita tentu akan memperhatikan penggunaan elemen pada logo kita agar dapat membentuk citra positif orang yang melihatnya.
Kita mungkin memilih untuk tidak akan menggunakan dominasi warna gelap atau hitam pada produk lotion pemutih yang kita tawarkan. Kita mengurungkan niat kita untuk tidak akan memilih font jenis handtype atau menambahkan tokoh komik konyol untuk membuat logo sebuah partai (ya, bagaimana nasib negeri ini kalau partai konyol seperti itu menang, hmm.. masalah kepercayaan sih). Kita akan cenderung membuat bentuk huruf yang didinamiskan serta ceria untuk logo majalah segmentasi remaja. Kita akan membuat desain tidak hanya logo, tapi juga kemasannya, bentuk, isi dan sebagainya yang akan kita sesuaikan dengan segmen pasar mana yang mau kita gaet.
Walaupun intinya saya hanya akan mengatakan bahwa sah-sah saja orang menafsirkan logo itu selama penafsirannya bersifat umum, spontan, tidak dibuat-buat atau maksa (menurut hati nurani-lah). Kalau kita hanya mengungkapkan sejauh apa yang dapat kita tangkap, kita lihat, dan kesan yang ditimbulkan pada pandangan pertama, tanpa pertimbangan apa sih latar belakang sebenarnya, sama saja seperti halnya komunikasi yang merupakan pertukaran lambang, yang mana pemberian maknanya dilakukan oleh masing-masing orang dengan frame of experience dan juga frame of reference-nya. Tugas pihak logo-maker lah yang seharusnya berupaya menanamkan imej yang populer dan understandable, yang notabene efektifnya adalah untuk pendongkrakan pasarannya.
Tidak sembarang mencantumkan logo apalagi kalau 'tidak nyambung', walau sebenarnya di era kreativitas sangat dihargai ini, sesuatu yang lateral atau di luar kebiasaan menjadi ide gemilang sekalipun. Kira-kira begitulah. Jadi, masalah filosofis yang memang hanya urusan internal pihak logo-maker atau perusahaan atau organisasi itu, ya itu masalah mereka, bukan masalah anda. Ups, maksudnya, itu adalah masalah selanjutnya bila anda ingin melakukan penelitian, mencari informasi detailnya, atau dibayar menjadi ikon logonya.
(PS: tulisan untuk ngeles hasil tugas. Tapi kira-kira boleh diajukan tidak ya? Relevan tidak ya? Bener tidak ya? yaah.. karena enggak nemu artikel yang lain yang bisa lebih argumentatip bisa jadi ini benar-benar dikasih sebagai pengantar.. :p)
Posted
by me
Tuesday, March 01, 2005
|
|
|
0 Comments:
Post a Comment
<< home