|
|
|
status:
semi-hiatus
mood: netral
reading: new ESQ way 165
listening: so simple
watching: curious george |
| |
| |
| .::taggie::. |
|
|
| |
.::HitCo
|
| |
| |
| .::clickie::. |
|
Rewind
|
| |
|
...::::||::::...
Simple
is nice.
So keep everything simple.
|
|
|
|
Pernah ga ngerasa kalo dalam hari-hari yang kita jalani, ada hari yang membuat kita mendeklar kaek gini...
"Wah, jangan-jangan ini hari sialku,"
Ya. Begitu.
Misalnya sebut saja, ketika kesandung di jalan nyaris jatuh beberapa kali. Adegan ulang. Dan jadi malu karena diketawai. Padahal bukan masalah sepatunya yang biasanya juga gapapa kok. Trus bisa juga tiap ketemu orang, kena sindiran mulu, atau kena petuah-petuah yang bikin lemes. Atau... satu hal, birokrasi. Apa. Ya ngurusin hal-hal yang jadi njelimet dengan tidak semestinya. Atau , siklus hidup. Ngerasa. Kenapa aku ini orang yang paling malang di dunia. Macet. Atau pernah dikatai, "Wah memang kamu pembawa sial, sial, sial, sial, blablabla..." *bergema*
Ya. Begitula...
Itu naluri. Apabila naluri kita itu ada kelemahan, maka akan mengalir pada diri suatu anggapan sial karena sesuatu. Yang mana kelemahan itu enggak mau diterima.
The name is tathayyur.
Satu hal yang berdiri tanpa landasan ilmu pengetahuan atau suatu kenyataan yang benar.
Yang hanya berjalan mengikuti kelemahan dan membenarkan dugaan yang salah/waham.
Merasa sial atau tathayyur itu cukup laku peredarannya. Baik merasa sial karena sesuatu, karena waktu, karena tempat, karena seseorang, atau apapun... Jadi ga salah kalau kita pernah terbersit kaek gitu dalam hati. Lho?
"Ada tiga perkara yang tidak akan bisa selamat satupun..."
meaning rata-rata manusia mengalaminya, Mungkin naluri kalau bisa dikatakan demikian. Kita mungkin tidak kuasa menolaknya. Ya, 3 perkara itu adalah...
“...menuduh, tathayyur, dan hasud. Maka kalau kamu menuduh jangan kamu nyatakan, kalau merasa sial jangan surut (jangan kamu gagalkan pekerjaanmu), dan kalau kamu hasud jangan lanjutkan.” (Riwayat Thabrani)
Kenapa? Karena hal itu hanya semata-mata perasaan yang tidak berpengaruh pada suatu sikap dan perbuatan. Jadi masih ada dimaafkannya oleh Allah.
Jadi maksudnya: setiap orang di antara kita-kita ini ada perasaan-perasaan seperti itu, tetapi perasaan semacam ini akan hilang lenyap dari hati orang yang selalu tawakkal dan tidak membiarkan perasaannya itu nyangkut dalam hati.
Dus, kalau misalnya perasaan itu terbit di hati, wajar siy, hanya saja jangan dibiarkan, apalagi dibesar-besarkan, "Wah sial skali, mengapa begini, mengapa, tidaaaaaakkkkk...!!!!" Trus sesunggukan sambil meratap ke dinding =)
Ini kelemahan yang seharusnya jangan diterima. Apalagi kalau sudah melakukan sesuatu, misalnya, ya jalani aja dengan optimis. Kalau tidak, apa artinya seorang yang berakal, lantas percaya mendapat sial karena seseorang, atau karena tempat, atau karena dengkurnya suara kucing (se-um-pa-ma) geraknya mata (berkedut-kedut mi-sal-nya), atau karena mendengar suatu perkataan?!
Ya. Begitu.
Sekian. Tambahan ilmu bagiku. Hasil membaca satu email milis. Supaya engga menstempel ada hari sebagai shitty day. Astaghfirullah.
Kalau kamu tidak bahagia, itu salahmu sendiri, jadikan setiap hari-harimu sebagai hari raya.
Posted
by me
Wednesday, October 06, 2004

Suara bus melaju dengan tenangnya. Beberapa kali saya melayangkan pandangan keluar jendela. Hamparan hijau memukau. Sudah dekat, seru saya kegirangan walau hanya dalam hati. Rasa kerinduan kampung halaman yang sedari tadi membuncah begitu manisnya.
Tinit tinit...
Bunyi hp. Ada sms masuk, berarti sudah dekat kota, sinyal menguat. Saya merogoh hp itu di dalam tas. 1 pesan diterima.
“Sudah sampai mana?”
Abang saya. Yang memang sudah saya wanti-wanti buat menjemput di terminal.
“Engga tau. Kayaknya hampir dekat. Sawah melulu.”
Balas saya sambil menekan ‘send’.
Sungguh, sudah beberapa tahun saya tidak pulang ke kampung saya, pantas saja jadi agak-agak pangling dan lupa, apalagi baru kali ini memberanikan diri memilih naik bus. cuma masalah kepingin menikmati perjalanan panjang. Fuh, 12 jam.
Tinit tinit...
“Ok. Kami tungguin nih”
Kami? Spontan mata saya berkerjab. Siapa saja yang menjemput? Ramekah? Jangan-jangan satu keluarga, haha, saya tersenyum simpul.
Masih 30 menit lagi, kata kondektur bus Pelangi yang saya tumpangi. Beberapa orang mulai membenahi bawaannya. Merapikan bajunya yang kusut karena tidur semalaman. Atau merapikan jilbabnya bagi yang perempuan. Yah, semua yang wanita kelihatannya mengenakan jilbab, termasuk saya. Sudah tentu, ini Nanggroe Aceh Darussalam. Eh, tapi ada juga 2 orang wanita yang dengan santainya membiarkan rambut lebatnya dimainkan angin pagi yang melewati lajunya bus.
Saya juga tak lupa memeriksa semua barang agar tidak tercecer. Sebuah ransel dan tas jinjng yang tidak terlalu besar. Saya benar-benar akan pulang ke kampung sendiri, bukan? Jadi tidak perlu membawa terlalu banyak barang. Lagipula saya tidak suka repot, dengan tangan saya yang cuma dua. Sekotak Bika Ambon dan Sumpia kering sebagai buah tangan dari Medan untuk keluarga di rumah.
Sehelai kartu terjatuh dari kantong baju saya ketika menunduk membetulkan sepatu. Ups...KTP saya. Segera saya memungutnya dan memasukkan ke dalam dompet kulit milik saya.
Teringat saat pemeriksaan KTP di daerah Kuala Simpang yang dilakukan oleh tentara. Perbatasan. Dan saya terpaksa kena introgasi gara-gara tidak mempunyai KTP merah putih sebagai tiket masuk.
Saat itu saya disuruh turun dan melapor ke posko di bawah. Di sana ada sekitar 3-4 orang dari bus lain yang juga kedapatan tidak memiliki KTP merah putih bagi warga Aceh. Kekhawatiran merasuk, walau tidak mengerti akan diapakan selain diiintrogasi sedikit. Yang jelas saya merasa tidak bersalah, dan punya alasan. Walau berharap cemas juga, mudah-mudahan tidak terjadi cerita ‘asal tangkap’ seperti masa krisis dulu.
“Arina..!” nama saya terakhir dipanggil. Saya melangkah tanpa ekspresi. Ya, tidak perlu khawatir, yang penting saya tidak boleh terlalu lama menjadi ‘penghambat’, karena gara-gara saya bus yang saya tumpangi terpaksa menunggu lama (maaf!).
“Mengapa tidak ada kartunya? Atau surat keterangan? Dari Medan kan?” tanya seorang tentara tua yang duduk tenang di balik meja kecilnya dan mulai mencatat. Kelihatannya dia adalah ‘bos’ di antara mereka. Saya tidak tahu jabatannya apa. Beberapa tentara mulai riuh menimpal. Suruh balik ke Medan, Pak, kata mereka. Saya menelan ludah. Tidak mungkin saya kembali lagi ke Medan. Lalu saya jelaskan bahwa semenjak diberlakukannnya Darurat Militer atau Darurat Sipil yang sekarang di Aceh, saya sama sekali belum pernah pulang, otomatis saat penggantian kartu merah putih saya tidak bisa mengurusnya.
Tentara tua itu tidak lantas percaya, saya sempat tegang, saya tahu dia hendak memperlama urusan.
Orang-orang di belakang saya sempat berbisik, sudah serahkan saja-mereka menyebut sejumlah uang-lalu pasti dibiarkan pergi. Saya tetap bersikeras kalau saya tidak salah dan saya tidak perlu ‘pelicin’.
Hingga akhirnya tentara tua itu meminta saya menunjukkan kartu mahasiswa saya. Saya pun serta merta mengeluarkan KTM dari dalam dompet. Dan akhirnya lepas juga. Beberapa tentara lain masih riuh, saya bergegas menuju bus sembari meminta maaf pada semua orang di sana.
Terminal Setui. Akhirnya bus berhenti juga dan saya telah tiba di Banda Aceh, kota kelahiran saya. Terlihat adik dan dua abang saya menunggu di depan. Setelah kami bersalaman dan berpelukan, kami pun menuju mobil. Adik saya tak hentinya berceloteh. Ia menceritakan semua perubahan yang terjadi selama saya tidak ada di kota yang memiliki semboyan Kota Beriman alias bersih, indah dan nyaman itu. Juga keadaan rumah dan tetangga.
Dari balik kaca jendela saya melihat di kanan kiri banyak bangunan baru. Yang paling banyak adalah pembangunan ruko, rumah toko. Semuanya terlihat masih baru atau baru saja diperbaharui. Begitulah. Bahkan hampir bisa dikatakan tidak ada lagi ruko-ruko tua selain karena warna catnya yang menarik dan papan-papan nama yang ditambahi dengan tulisan Arab Jawi di bawahnya. Swalayan-swalayan besar pun semakin bertambah jumlahnya, Pante pirak, Metro, Barata, Simpang Lima. Fuh, ada sedikit kegetiran yang tiba-tiba hinggap. Entahlah.
Lalu mobil tercegat lampu merah di jalan depan Masjid Raya Baiturrahman, masjid terindah yang selalu ramai didatangi orang. Ah, rindunya saya ingin bershalat di sana, di lantai keramiknya yang sejuk dan sepoi angin yang memanjakan ketenangan pikiran serta gemericik air mancur dari taman kolam di depannya.
Dan satu hal yang paling menarik saya ketahui, adalah situs PKA (Pekan Kebuadayaan Aceh). Yang baru diresmikan pada PKA ke-4 September lalu. Dengan keagungan Tugu Safiatuddin yang berdiri tegak di gerbang masuknya, seakan menyambut ramah siapa yang akan memasuki area tersebut. Tempatnya benar-benar strategis dan sangat indah, dengan aliran sungai Krueng Aceh merona jernih di sekitarnya. Apalagi kata adikku, saat sore, sunset dari sana amat memukau. Wah, tak hentinya saya bertasbih memujiNya akan segala ketakjuban yang saya rasakan.
Saya belum bisa jalan kemana-mana untuk hari ini, walau masih banyak tempat yang ingin saya lihat, Pelabuhan Ulhe-lheu, kawasan kampus di Darussalam, dan banyak lagi. Akhirnya, sampailah saya di rumah kecintaan, bunga-bunga terlihat kompak menyemarakkan suasana. Ayah dan ibu menyambut di depan teras. Bau cat yang masih basah tercium menusuk, persiapan menyambut hari raya rupanya.
Tetangga pun menyapa, bersalaman dan mengucapkan, “Peu ha ba?” kata mereka menanyakan apa kabar. Saya tersenyum, sudah agak gagok berbicara Bahasa Aceh.
Semua terasa hangat dan berseri, bias kerinduan yang merencah layaknya kelahiran kembali.
Saya merebahkan badan saya di dipan ruang. Lelah terasa. Beberapa ada yang berubah, tapi tetap ada yang masih sama, kebersamaaan, kasih sayang orang-orang, teman-teman tercinta dan langit Banda yang mempesona indah dengan setianya. Saya cinta kota ini. Sungguh.

      
© 2Oo4-2oO7 airinyh inc.
|
|
|