Ketika setiap jiwa akan ditanyakan apa-apa yang telah dikerjakannya...
b i s m i l l a h i r r a h m a n i r r a h i m
Assalamualaikum.... 
|| Logchalk: Airin. 30 juni 1984. komunikasi usu. 
bandaaceh-medan. indonesia.
islam. lyfenote diary. memoarea
status: semi-hiatus
mood: netral
reading: new ESQ way 165
listening: so simple
watching: curious george
 
 
.::taggie::.
 
nama
web url
message
:) :( :D :p :(( :)) :x
 
  .::HitCoHit Counter
 

.::clickie::.

Rewind


...::::||::::...

Simple is nice.
So keep everything simple.


WEB MEMOAREA

Pernah ga ngerasa kalo dalam hari-hari yang kita jalani, ada hari yang membuat kita mendeklar kaek gini...
"Wah, jangan-jangan ini hari sialku,"
Ya. Begitu.
Misalnya sebut saja, ketika kesandung di jalan nyaris jatuh beberapa kali. Adegan ulang. Dan jadi malu karena diketawai. Padahal bukan masalah sepatunya yang biasanya juga gapapa kok. Trus bisa juga tiap ketemu orang, kena sindiran mulu, atau kena petuah-petuah yang bikin lemes. Atau... satu hal, birokrasi. Apa. Ya ngurusin hal-hal yang jadi njelimet dengan tidak semestinya. Atau , siklus hidup. Ngerasa. Kenapa aku ini orang yang paling malang di dunia. Macet. Atau pernah dikatai, "Wah memang kamu pembawa sial, sial, sial, sial, blablabla..." *bergema*
Ya. Begitula...
Itu naluri. Apabila naluri kita itu ada kelemahan, maka akan mengalir pada diri suatu anggapan sial karena sesuatu. Yang mana kelemahan itu enggak mau diterima.

The name is tathayyur.
Satu hal yang berdiri tanpa landasan ilmu pengetahuan atau suatu kenyataan yang benar.
Yang hanya berjalan mengikuti kelemahan dan membenarkan dugaan yang salah/waham.

Merasa sial atau tathayyur itu cukup laku peredarannya. Baik merasa sial karena sesuatu, karena waktu, karena tempat, karena seseorang, atau apapun... Jadi ga salah kalau kita pernah terbersit kaek gitu dalam hati. Lho?

"Ada tiga perkara yang tidak akan bisa selamat satupun..."
meaning rata-rata manusia mengalaminya, Mungkin naluri kalau bisa dikatakan demikian. Kita mungkin tidak kuasa menolaknya. Ya, 3 perkara itu adalah...
“...menuduh, tathayyur, dan hasud. Maka kalau kamu menuduh jangan kamu nyatakan, kalau merasa sial jangan surut (jangan kamu gagalkan pekerjaanmu), dan kalau kamu hasud jangan lanjutkan.” (Riwayat Thabrani)
Kenapa? Karena hal itu hanya semata-mata perasaan yang tidak berpengaruh pada suatu sikap dan perbuatan. Jadi masih ada dimaafkannya oleh Allah.

Jadi maksudnya: setiap orang di antara kita-kita ini ada perasaan-perasaan seperti itu, tetapi perasaan semacam ini akan hilang lenyap dari hati orang yang selalu tawakkal dan tidak membiarkan perasaannya itu nyangkut dalam hati.

Dus, kalau misalnya perasaan itu terbit di hati, wajar siy, hanya saja jangan dibiarkan, apalagi dibesar-besarkan, "Wah sial skali, mengapa begini, mengapa, tidaaaaaakkkkk...!!!!" Trus sesunggukan sambil meratap ke dinding =)
Ini kelemahan yang seharusnya jangan diterima. Apalagi kalau sudah melakukan sesuatu, misalnya, ya jalani aja dengan optimis. Kalau tidak, apa artinya seorang yang berakal, lantas percaya mendapat sial karena seseorang, atau karena tempat, atau karena dengkurnya suara kucing (se-um-pa-ma) geraknya mata (berkedut-kedut mi-sal-nya), atau karena mendengar suatu perkataan?!
Ya. Begitu.
Sekian. Tambahan ilmu bagiku. Hasil membaca satu email milis. Supaya engga menstempel ada hari sebagai shitty day. Astaghfirullah.

Kalau kamu tidak bahagia, itu salahmu sendiri, jadikan setiap hari-harimu sebagai hari raya.

Posted by me Wednesday, October 06, 2004

0 Comments:

Okay,Alhamdulillah42day...
	  Lurfe U Allah! =)

 

 

© 2Oo4-2oO7 airinyh inc.